Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ringkasan Materi Dogmatika

Sumber Gambar: desiringgod


I. Istilah dan Sumber Dogmatika
Istilah Dogmatika berasal dari kata Yunani dogma, jamaknya ialah dogmata. Kata itu mula-mula berarti pendapat atau pandangan atau ajaran pada lapangan Filsafat. Selanjutnya kata dogma berarti juga keputusan atau apa yang sudah diputuskan, baik oleh seseorang maupun oleh suatu persidangan. Olah karena keputusan seperti itu biasanya diumumkan, amak arti dogma menjadi peraturan, perintah, pengumuman, dan sebagainya. Kata kerjanya ialah dogmatizo, artinya merumuskan sesuatu pendapat atau dalil, mengumumkan suatu keputusan atau perintah.
Orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani telah mempergunakan kata dogma pada lapangan keagamaan, misalnya untuk hukum-hukum dan aturan-aturan sebagaimana terdapat dalam Perjanjian Lama (Hukum Taurat). Dalam arti yang demikian, kata tersebut dipergunakan juga oleh rasul Paulus (Kol 2:14, 20; Ef 2:15). Di dalam Perjanjian Baru kata dogma kita temui juga dalam arti: hukum-hukum, perintah-perintah atau peratuan-peraturan dari pihak pemeritah (Luk 2:1; Kis 17:7; Ibr 11:23).
Di kalangan jemaat Kristen kata dogma sudah segera mendapat arti yang istimewa. Di dalam Kis 16:4 dikatakan tentang “dogmata” yang ditetapka oleh pimpinan jemaat Kristen di Yerusalem. Sesudah zaman para rasul kata itu dipakai juga untuk ajaran yang telah diberikan oleh Tuhan Yesus. Di dalam tulisan-tulisan dari zaman itu kita jumpai ungkapan, ‘dogmata Tuhan’ atau ‘dogma Injil’ (Injil adalah berita tentang Yesus Kristus). Kemudian timbul pula ungkapan ‘dogmata Gereja’.
Dengan berdasar pada penjelasan di atas dapat kita rangkum bahwa dogmatika merupakan suatu ajaran atau dalil, suatu rumusan tentang sesuatu kebenaran keagamaan, suatu pasal kepercayaan dari Gereja Kristen. Maka dari pengertian yang terakhir inilah berasal istilah dogmatika dan kata sifatnya dogmatis (secara dogmatika), sehingga dapat dikatakan bahwa Dogmatika merupakan bagian dari dari ilmu teologia yang bersangkut paut dengan isi pengakuan iman Gereja Kristen.



II. Penyataan dan Pengakuan
1. Pengertian Penyataan
Dalam lapangan theologia, kita pergunakan kata “penyataan” sebagai terjemahan dari kata kerja Latin, yaitu revelare, dan kata bendanya, yakni revelatio (bandingkan Inggrisnya “revelation”). Dalam Alkitab, bahasa Ibraninya ialah gillah, sedangkan Yunaninya ialah apokalypto. Semua kata kerja itu menaruh isi sebagai berikut: menyingkapkan, menanggalkan, membuka selubung, menunjukkan yang tersembunyi, memberitahukan tentang yang tidak dikenal. Jadi kata itu selalu mengenai munculnya apa yang tersembunyi.
Di dalam Alkitab kata-kata itu khususnya dihubungakan dengan Allah: “penyataan Allah” berarti bahwa Allah menyatakan diri-Nya, yaitu membuat Ia dikenal oleh manusia. Allah yang tersembunyi, yang “mendiami terang yang tidak terhampiri” (1 Tim 6:16), muncul dari ketersembunyian-Nya yang kekal: Ia datang kepada manusia dengan menyatakan diri-Nya sebagai Allah yang hidup, yang berfirman, yang bertindak.
Kadang-kadang dalam hubungan ini orang pergunakan juga kata wahyu. Kata ini berasal dari kata kerja Arab, yang terutama berarti : mengilhamkan atau membisikkan sesuatu, bukannya mengenai diri sendiri. Misalnya: mewahyukan sebuah Kitab Suci, suatu ajaran atau suatu agama. Tetapi berbeda dengan agama-agama lain justru yang merupakan inti dari kesaksian Alkitb ialah, bahwa Allah menyatakan diri-Nya sendiri.
2. Pengakuan (Konfesi)
Kata “pengakuan” merupakan kata benda dengan kata kerjanya “mengaku” dan kata dasarnya adalah “aku”. Jadi dalam kita mengaku, kita harus berkata “aku”! sebagai contoh hendaknya kita mengingat perkataan Yosua : “pililah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah .... Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN” (Yos 24:15). Cara Yosua mengaku demikian adalah merupakan kesaksian dan ajakan kepada kepada bangsanya untuk mengambil keputusan serta bersama-sama dengan dia mengaku akan Allah. Ketika bangsa itu mengiakannya, “pada hari itu juga Yosua mengikat perjanjian dengan bangsanya itu” (ayat 25). Terjadilah suatu persekutuan orang yang terikat satu sama lain, oleh sebab mereka mengaku akan Allah yang hidup.
Pengakuan Iman Rasuli mulai dengan ungkapan “aku percaya”. Dapat dikatakan, bahwa “Aku” itu ialah Gereja yang mengaku. Tetapi tak dapat tidak bahwa mengaku menjadi soal pribadi: aku sendiri yang harus mengambil keputusan yang sedalam-dalamnya. Yang demikian itu mungkin tidak kita sukai. Kehidupan serta pemikiran kita, segenap tingkah laku kita adalah bersifat komunal (dari kata latin “communio”=persekutuan, kehidupan bersama).
Apakah mengaku itu? Mengaku berarti : berpihak kepada kebenaran ilahi dan menyatakan keyakinannya itu. Yesus telah berkata: “Aku inilah ..... kebenaran” (Yoh 14:6). Jadi mengaku berarti: mengaku Yesus Kristus sebagai Kebenaran yang dari Allah, Kebenaran yang menjadi bagi kita kebenaran hidup, Kebenaran yang menentukan hidup kita seluruhnya. Mengaku tidaklah berarti, bahwa dari antara agama-agama yang banyak itu kita memilih satu, seperti dari antara partai-partai politik yang banyak itu kita memilih satu yang, pada hemat kita, lebih baik tampaknya daripada yang lain. Mengaku bukanlah merupakan soal akal budi saja, bukanlah hanya suatu pendapat atau anggapan yang esok lusa bisa berubah pula. Mengaku sesuatu atau seseorang itu terjadi oleh karena segenap hidup saya telah dikuasainya, sehingga apabila perlu, kehidupan saya harus telah dikuasainya, sehingga apabila perlu, kehidupan saya harus dikobarkan untuknya.
3. Pengakuan-pengakuan
1) Pengakuan Iman Rasuli
2) Pengakuan Nicea Konstantinopel
III. Ajaran Tentang Allah
1. Nama-nama Allah
PL
a) El, Elohim, dan Elyon. Nama yang paling sederhana yang dengannya Allah disebut dalam Perjanjian Lama adalah nama ‘El’, yang sangat mungkin berasal daro kata ul, yang berarti kuat dan berkuasa. Nama ‘Elohim’ (bentuk tunggalnya adalah ‘Eloah’) mungkin berasal dari kata alah yang berarti ‘dilingkupi ketakutan’, dan dengan demikian menunjuk kepada Allah sebagai Dia yang kuat dan berkuasa, atau merupakan objek dari rasa takut. Nama Elohim ini jarang sekali muncul dalam bentuk tunggal, kecuali dalam puisi. Bentuk jamak seperti ini dianggap sebagai bentuk intensif dan dengan demikian dapat memberikan petunjuk akan adanya kuasa yang penuh. Nama ‘Elyon’ diturunkan darai kata alah juga, dan nama Elyon ini berarti ‘ke atas’, ‘ditinggikan’, dan menunjuk Allah sebagai Dia yang tinggi dan dimuliakan (Kej 14:19-20; Bil 24:16; Yes 14:14). Nama ini terutama ditemukan dalam bentuk puisi. Nama ini belum merupakan sebuah nomina propiria dalam arti katanya yang paling sempit, sebab nama itu juga dipakai untuk menunjukkan kepada berhala (Mzm 95:3; 96:5), untuk menunjuk manusia (Kej 33:10; Kel 7:1), dan tentang penguasa (Hak 5:8; Kel 7:1; 22:8-20; Mzm 82:1).
b) Adonai. Nama Adonai ini sangat erat hubungannya dengan nama El, Elohim, atau Elyon. Kata Adonai mungkin diturunkan dari dun (din) atau adan yang keduanya berarti menghakimi, memerintah, dan dengan demikian menunjuk kepada Allah sebagai Penguasa yang kuat, kepada siapa semuanya harus berhadapan, dan kepadanya manusia adalah hamba. Pada zaman dulu Adonai adalah dengan nama Yehova atau Yahweh. Semua nama yang disebut itu menunjuk kepada Allah sebagai Dia yang tinggi dan dimuliakan, Allah yang transenden. Nama-nama yang disebut berikut ini menunjuk kepada kenyataan bahwa Yang Dimuliakan ini merendahkan diri untuk memasuki hubungan dengan mhkluk-Nya.
c) Shaddai dan El-Shaddai. Nama shaddai diturunkan sari kata ‘shadad’ yang artinya penuh kuasa, dan menunjuk kepada Allah sebagai pemilik kuasa di surga dan di bumi. Akan tetapi ada juga orang lain yang berpendapat bahwa nama ini berasal dari kaa shad yang artinya tuan. Nama ini berbeda dengan ‘Elohim’, Allah dari ciptaan alam semesta, dalam arti bahwa nama shaddai menunjuk kepada Allah sebagai subjek semua kekuatan di alam dan memakai segala sesuatu yang ada di alam sebagai alat atau sarana bagi karya anugerah ilahi. Walapun menekankan kebesaran Allah, nama ini tidak mewakili Allah sebagai objek rasa takut atau kegentaran, tetapi sebagai sumber berkat dan kedamaian. Dengan nama inilah Allah datang kepada Abraham, Bapa segala orang beriman (Kel 6:2).
d) Yahweh dan Yahweh Tsebhaoth. Terutama dalam nama ‘Yahweh’ yang perlahan-lahan menggantikan nama-nama yang lain inilah Allah menyatakan diri-Nya sebagai Allah anugerah. Nama ini yang dianggap sebagai nama yang paling sakral dan paling diagungkan diantara nama-nama yang lain, sebagai Allah yang tidak mungkin berubah. Orang Yahudi mempunyai rasa takut tersendiri untuk menyebut nama ini, karena mereka selalu ingat kepada Im 24:16 yang berbunyi: “siapa yang menghujat nama Tuhan pasti ia dihukum mati dan dilontari dengan batu oleh seluruh jemaat itu. Baik orang asing maupun orang Israel asli, bila ia menghujat nama Tuhan haruslah dihukum mati.” Karena rasa takut itu maka dalam membaca Kitab Suci orang Yahudi menggantinya dengan ‘Adonai’ atau ‘Elohim’, dan kelompok Massoret walapun tetap membiarkan konsonan dari kata itu tetapi tak berubah, mereka memberikan kepada konsonan itu vokal-vokal dari kata Elohim atau Adonai, tetapi biasanya vokal dari kata Adonai yang lebih banyak dipakai.
PB
a) Theos. Nama Allah dalam Perjanjian Baru mempunyai bentuk yang setara dengan nama Allah dalam Perjanjian Lama. Bagi nama El, Elohim dan Elyon, nama dalam bahasa yunaninya adalah Theos, yang merupakan nama paling umum dari Allah. Seperti juga nama Elohim, nama ini juga mungkin saja merupakan penyesuaian dari nama ilah bangsa kafir, walaupuan sesungguhnya secara tegas nama itu menyatakan keilahian yang esensial. Elyon sering disejajarkan dengan Hupistos Theos (Mark 5:7; Luk 1:32,35,37; Kis 7:48; 16:17; Ibr 7:1). Nama shaddai dan El-Shaddai disejajarkan dengan Pantokrator dan Theos pantokrator (2 Kor 6:18; Why 1:8; 4:8; 11:17; 15:3; 16:7, 14). Akan tetapi, pada umumnya Theos lebih sering muncul dalam genetif yang menyatakan milik, seperti mou, sou, hemon, human, sebab didalam Kristus, Allah dapat Allah dari segala umat-Nya atau anak-anak-Nya. Ide nasional dari Perjanjian Baru telah memberi tempat bagi orang-orang secara individual dalam agama.
b) Kurios. Nama Yahweh dieksplisitkan beberapa kali oleh variasi-variasi dari bentuk deskriptif seperti “Alfa dan Omega”, “yang dulu ada, yang sekarang ada, dan yang akan tetap ada”, “yang awal dan yang akhir”, “yang pertama dan yang terakhir”, (Why 1:4,8,17; 2:8; 21:6; 22:13). Akan tetapi selebihnya Perjanjian Baru mengikuti Septuaginta yang menggantikan Adonai dengan kata ini dan menyetarakan dengan Kurios, yang diturunkan dari kata kuros yang berarti kuasa. Nama ini tidak mempunyai konotasi yang tepat sama dengan Yahweh, tetapi menunjuk Allah sebagai yang Maha Kuasa, Tuhan, Pemilik, Penguasa yang memiliki kekuasaan resmi dan juga otoritas. Kata ini tidak hanya di pakai untuk menunjuk Kristus.
c) Pater. Sering dikatakan bahwa Perjanjian Baru menyebut Allah dengan sebutan baru, yaitu Pater (Bapa). Hal ini hampir tidak benar. Nama ‘Bapa’ dipakai untuk menunjuka keilahian, bahkan juga oleh bangsa kafir dalam agama mereka. Kata itu dipakai berulang-ulang dalam Perjanjian Lama untuk menunjuk hubungan antara Allah dan Israel ( Ul 32:6; Mzm 103:13; Yes 63:16; 64:8; Yer 3:4,19; Mal 1:6; 2:10), sedangkan Israel disebut anak Allah (Kel 4:22; Ul 14:1; Yes 1:2; Yer 31:20; Hos 1:10; 11:1). Dalam contoh-contoh itu nama itu mengekspresikan hubungan teokratis dimana Allah berdiri bagi Israel. Dalam pengertian yang asli tentang pemulai dan pencipta, kata itu dipakai dalam Perjanjian Baru sebgai berikut: 1 Kor 8:6; Ef 3:15; Ibr 12:9; Yak 1:18. Dalam bagian-bagian lain kata itu menunjukkan hubungan yang khusus dimana pribadi pertama dari Allah Tritunggal berelasi dengan Kristus, sebagai pengantara atau hubungan etis dimana Allah berdiri bagi orang percaya sebagai anak-anak rohani-Nya.
2. Allah orang Israel
Sekalipun banyak sebutan bagi Allah orang Israel namun pada umumnya dikenal dengan sebutan Yahweh. Itulah Allah orang Israel yang kepada bangsa Israe menyembah dan beribadah.
IV. Allah Selaku Bapa
1. Allah selaku Bapa
Kata “Bapa” mengandung arti, bahwa dialah yang menjadi sebabnya saya bisa hidup. Selanjutnya kata itu mengingatkan kita kepada kekuasaan atau kewibawaan yang harus kita akui, terlebih-lebih kepada pelbagai sifat yang baik serta ramah dari pihak bapa itu terhadap anak-anak-Nya. Itlah sebabnya kata “bapa”dapat kita perguankan juga sebagai suatu gelar kehormatan bagi mereka yang berada di atas kita, (misalnya “Bapa Gubernur”).
Kata “bapa” yang lazim itu dikiaskan kepada Allah : sebagaimana seorang bapa kepada anaknya. Demikianlah bapa sebagai Allah abgi anak-ank-Nya di dunia ini. Ia menyelenggarakan segala-galanya, menjaga segala sesuatu, mengatur serta memerintah atas semuanya, sekali-kali menghukum juga,tetapi ia memaafkan banyak kesalahan.
2. Bapa Yang Maha Kuasa
Menurut tejemahan yang terdapat dalam buku pengajaran Agama Kristen (Katekismus Heidelberg), jawab 23, pasa pertama Pengakuan Iman itu berbunyi sebagai berikut: “Aku percaya akan Allah Bapa, Yang Maha Kuasa, .....” di dalam dogmatika atau “tata bahasa Alkitab” ini kita harus perhatikan juga soal-soal kecil seperti pemakaiaan koma-koma dan huruf-huruf besar! Penggunaan dua huruf besar dalam “Yang Mahakuasa”, disertai penggunaan dua koma dalam pasal tersebut, pada hemat kami, bisa menimbulkan salah paham. Yaitu seolah-olah yang “Yang Mahakuasa” merupakan suatu pengertian yang berdiri sendiri, atau suatu nama yang tersendiri, terlepasa dari kata-kata yang mendahuluinya.
Pengakuan Iman tidak berbicara secara umum tentang  “Yang Maha Kuasa”, akan tetapi secara tegas tentang Bapa yang maha kuasa ataupun Allah “Allah Bapa yang mahakuasa”! Di dalam pasal petama dikatakan bahwa Allah ialah Allah Bapa, dan tentang Allah Bapa ini dikatakan bahwa Ia adalah maha kuasa. Demikianlah hubungan kata-kata yang merupakan kalimat pasal pertama. Dan hubungan itu menentukan isi kata “maha kuasa”.
3. Khalik Langit Bumi
Salah satu teori tentang terjadinya alam semesta adalah terori big bang bahwa dunia ini terjadi karena adanya tabrakan yang mengakibatkan ledakan besar yang nantinya darinya serpihan-serpihan ledakan itulah alam semesta terbentuk. Namun di dalam kekritenan mengakui dan mempercayai bahwa alam semesta tidak demikian adanya atau tidak seperti yang dikatakatan oleh Aristoteles, generatio spontanea, bahwa alam semesta secara tiba-tiba atau secara spontan terbentuk dengan sendirinya, melainkan diciptakan oleh Allah dengan berfirman. Itulah doktirn yang diyakini oleh setiap orang percaya bahwa alam semesta beserta isinya termasuk manusia adalah hasil karya Allah.
V. Manusia
1. Manusia menurut Filsafat/Ilmu pengetahuan
Manusia tidak hanya sekedar individu, jenis atau spesies namun ia adalah makhluk yang sangat berbeda dengan seluruh makhluk yang berada di bumi. ia memiliki keunikan-keunikan yang tidak ada pada makhluk lain bahwa ada yang mengatakan bahwa manusia merupakan pusat dari segala sesuatu (ontoantrposentris), bahkan dalam eksistensialisme manusia dikatakan sebagai manusia jika melakukan sesuatu karena dan bagi dirinya sendiri.
2. Manusia menurut konsep Alkitab
Di Kej. 2:7 disebutkan, bahwa TUHAN Allah membentuk manusia dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup kedalam hidungnya; demikianlah menjadi mahkluk yang hidup. Ayat ini pertama-tama menunjukkan bahwa manusia bukanlah berada dengan sendirinya, melainkan bahwa ada yang menciptakannya, yaitu Tuhan Allah sendiri. Tuhan Allahlah yang menciptakan manusia, yang semula belum ada, sehingga menjadi ada. Jadi adanya manusia berdasarkan kehendak Allah (Bnd. Kej. 1:26 yang menyebutkan hal putusan Tuhan Allah, untuk menciptakan manusia). Manusia bukanlah keturunan dari Allah, ia juga bukan mengalir keluar dari Allah, tetapi ia diciptakan oleh Allah.
Dari Kej. 1:26 kita dapat mengetahui, bahwa cara Tuhan Allah menjadikan atau menciptakan manusia berbeda sekali dengan caranya menciptakan mahkluk-mahkluk lain. Atas pertimbangan Tuhan Allah yang bulat dan bijaksana atas putusan kehendak-Nya yang bebas, manusia diciptakan. Manusia adalah mahkluk dalam arti yang sebenarnya, yang adanya karena diciptakan oleh Tuhan Allah. Manusia adalah hasil karya Allah yang keadaannya berlainan sekali dengan Tuhan Allah yang menciptakannya.
3. Struktur/aspek-aspek manusia
a) Tubuh atau badan, menurut Alkitab, menampakkan pribadi manusia dalam keseluruhannya, dari segi yang lahir.
b) Jiwa atau nyawa adalah ugkapan yang dipergunakan Alkitab untuk menyebutkan manusia dalam keseluruhannya, sebagai mahkluk yang bernafsu, berkehendak, berpikir dan sebagainya. Dapat dikatakan bahwa menurut Alkitab, jiwa atau nyawa menampakkan manusia dalam keseluruhannya, dari segi yang lain.
c) Hati adalah suatu ungkapan yang dipergunakan Alkitab untuk mengungkapkan segi hidup manusia yang tidak tampak, yang  tersembunyi di belakang yang tampak, yang menjadi asas pribadi manusia. Dengan hatinya manusia dapat mengetahui, dapat mengerti dan lain sebagainya. Dengan ungkapan “hati” ini Alkitab juga menunjukkan kepada manusia dalam keseluruhannya dari segi yang batin.
d) Roh adalah segi hidup manusia yang batin juga, yang dapat menerima dan menyatakan segala macam pengamatan rohani. Menurut Alkitab, roh ini bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Roh adalah adalah manusia sebagai keseluruhan, sebagai mahkluk yang berpikir, yang  berbuat, yang berkehendak dan lain sebagainya.
e) Jelaslah bahwa badan atau tubuh, menurut Alkitab, adalah manusia sebagai keselurhan dari segi yang lahir. Sedangkam jiwa atau nyawa dan hati serta roh adalah manusia sebagai keseluruhan dari segi yang lain. Dan segi yang batin ini oleh Alkitab bukan dipandang sebagai bagian batin manusia, yang berlawanan dengan bagian yang lahir. Lahir-batin, badan dan jiwa, sama pentingnya. Keduanya dipandang sebagai segi-segi yang esensial atau yang hakiki dari manusia. Badan bukanlah suatu substansi dari manusia atau zart yang berdiri sendiri. Badan atau tubuh mengungkapkan manusia seutuhnya, jiwa atau nyawa mengungkapkan manusia seutuhnya, demikian juga halnya dengan hati dan roh.
f) Harus diingat bahwa Alkitab didalam ucapan-ucapannya mempergunakan bahasa sehari-hari, bukan bahasa ilmiah. Di dalam hidup sehari-hari kita juga berkata : “Hatiku sedih”, sekalipun yang kita maksudkan “ Aku bersedih”, dan lain sebagainya.
g) Hubungan antara jiwa, nyawa, hati dan roh di satu pihak dengan badan atau tubuh di lain pihak, jika hendak kita rumuskan dengan bahasa ilmiah (di sini dalam bahasa ilmu jiwa), kiranya lebih tepat disebut : aku atau ego di satu pihak dan badan atau tubuh di pihak yang lain pihak. Hubungan “aku” dengan badan bukanlah sebagai “yang tinggi” dan “yang rendah”, yang bukan sebagai zat halus dan kasar, melainkan sebagai “inti” dan periferinya atau sekitarnya.
VI. Dosa Manusia
1. Tuhan Allah bukanlah sebab adanya Dosa
Alkitab dengan jelas menunjukkan, bahwa tidak mungkin Tuhan Allah menjadi sebab Dosa. Kitab PL telah memberitakan kepada kita bahwa jauhlah daripada Allah untuk melakukan kefasikan, dan daripada Yang Maha Kuasa untuk berbuat curang (Ayb 34:10). Oleh karena itu orang dianjurkan supaya mendekati Allah (Mzm 73:23; 119:68), sebab Tuhan Allah tidak pernah berlaku curang, ataupun menerima suap (2 Taw 19:7; Kel 23:6-8). Tuhan Allah tidak mungkin menjadi asal dosa terang juga dari hal ini, bahwa Tuhan Allah murka terhadap segala dosa, baik dosa para musuh Israel (Kel 23:22), maupun dosa Israel sendiri (Yes 63:10; Rat2:4-7). Dosa memisahkan Tuhan Allah daripada manusia.
2. Hakekat dan penyebaran Dosa
Di dalam PL dosa dibicarakan dengan bermacam-macam cara. Dosa ada kalanya disebut dengan sebuah kata yang pokoknya berarti : kehilangan (Kel 20:20; Ams 8:36). Jikalau dosa disebut dengan istilah yang demikian itu, maka yang dimaksud ialah, bahwa manusia kehilangan tujuannya atau tidak mencapai tujuannya, sebab ia tidka memperhatikan peraturan yang diadakan oleh Tuhan Allah. Jadi dengan istilah tadi yang ditekankan ialah hasil tindakan manusia dengan dosanya itu, buka motif-motif atau dorongan-dorongan yang mendorong perbuatannya. Selanjutnya didalam PL dosa juga disebut dengan sebuah kata yang pokoknya berarti : bengkok, keliru, menyimpang dari jalan. Di sini yang dipentingkan ialah unsur sengaja. Manusia digambarkan sebagai orang yang karena hati yang jahat melanggar hukum Allah.
Di dalam PB, dosa disebut : pelanggran hukum Allah (1 Yoh 3:4), atau menurut aslinya : anomoia, yaitu perbuatan yang tanpa kasih (1 Yoh 4:8), atau kejahatan (1 Yoh 5:17). Ungkapan-ungkapan yang lain ialah ketidaktaatan, ketidaksetiaan, tidak percaya, dan lain sebagainya. Semua ungkapan itu menunjukkan bahwa ada sesuatu yang hilang karena dosa itu.
Menurut Alkitab dosa adalah suatu pemberontakan, maka akibat lusa sekali. Dosa menurut Alkitab, memiliki sifat yang umum, yang meliputi seluruh keturunan Adam dan Hawa. Dengan cara yang bermacam-macam hal itu diajarkan oleh Alkitab. Di Rom 3:9 menyebutkan bahwa baik orang Yahudi maupun orang Yunani mereka semua ada dibawah kuasa dosa. Demikian juga Rom 3:23 mengatakan bahwa semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Di dalam ayat-ayat tesebut di atas yang ditekankan ialah “kuasa dosa”, yang telah menguasai segala manusia. Semuanya telah ada di bawah kuasa dosa (Rom 3:9), atau seperti yang diungkapkan di Gal 3:22, segala sesuatu telah terkurung di bawah kekuasaan dosa dan manusia dikuasai oleh dosa dan kebinasaan.
3. Akibat/dampak Dosa bagi Manusia
a) Di perbudak Dosa
Nasib orang berdosa ialah, bahwa bukan dirinya sendiri yang hidupnya, melainkan dosalah yang menguasainya. Ia menjadi budak dosa. Tuhan Yesus berkata bahwa setiwp orang yang berbuat dosa adalah hamba dosa (Yoh 8:34). Demikian juga rasul Paulus berkata, bahwa ia bersifat daging, terjual dibawah kuasa dosa (Rom 7:14,15; Rom 3:9; Gal 3:22).
b) Terkena Murka Allah
Selain hukuman Allah yang akan dinyatakan pada akhir zaman itu Alkitab juga memberitakan hukuman Allah yang telah dinyatakan pada zaman sekarang ini. Di dalam Rom 1:18, mengatakan bahwa murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia. Di sini dinyatakan bahwa murka Allah dinyatakan “dari sorga” atau dapat diterjemahkan dengan “dari langit”, dari atas, yang berarti bahwa murka Allah tadi dinyatakan dihadapan segala umat, hingga dapat diketahui oleh setiap orang. Tuhan Allah menyerahkan orang yang meninggalkan Dia kepada penyesatan dan kepada perbuatan-perbuatan yang hina.
VII. Malaikat
1. Pengertian Malaikat
Para Bapa Gereja dari gereja lama dan para ahli theologia dari abad-abad pertengahan memberikan pandangan-pandangan yang panjang lebar tentang para malaikat dan tentang tabiat serta zatnya. Malaikat-malaikat dibayangkan mereka sebagai makhluk-mahkluk yang sejenis dengan manusia, yaitu oknum-oknum yang mempunyai akal budi, kemauan sendiri akan kemungkinan untuk memilih secara bebas. Berbeda dengan manusia, yang adalah makhluk jasmani, maka para malaikat dianggap sebagai makhluk rohani. Selanjutnya kerap kali diperdebatkan mengenai soal, kapankah para malaikat diciptakan : sebelum penciptaan langit dan bumi, ataukah sesudahnya? Untuk menjelaskan kejatuhan manusia kedalam dosa, ada anggapan bahwa sebelum peristiwa itu, telah terjadi suatu pemberontakan diantara bangsa malaikat. Makanya para malaikat yang sudah jatuh kedalam dosa inilah yang dianggap menjadi iblis.
2. Jenis Malaikat dalam Alkitab
Di dalam Alkitab ada diceritakan tentang satu tokoh malaikat tertentu yang harus kita berikan perhatian khusus, yaitu seorang malaikat yang agaknya mempunyai nama tersendiri. Malaikat itu disebut malak-Yahweh (= malaikat TUHAN); lihat Bil 22:22; Hak 6:11; 13:3; 1 Raj 19:35. Kadang-kadang juga disebut malak Ha-Elohim (malaikat Allah); lihat Kel 14:19. Menurut PL, seakan-akan tokoh itu merupakan penjelmaan dan perwujudan pertolongan khusus yang diberikan Allah kepada umat-Nya. Di dalam Kitab Daniel fungsi seperti itu dimiliki oleh malaikat yang di sana bernama Mikhael (Dan 10:13,21; perhatikanlah dalam Daniel juga nama Gabriel, yang disana di sebut sebagai pesuruh khusus untuk menyampaikan firman-firman Allah kepada manusia : Dan 8: 16; 9:21; bandingkanlah Luk 1: 19,26). Mungkin juga tokoh “malaikat TUHAN” itulah yang disebut-sebut ataupun yang di maksud oleh Lukas di dalam Kisah Para Rasul (Kis 5:19; 8:26; 10:3; 12:7, 23; 27:23).
VIII. Penyelamatan (Soteriologi)
1. Rencana Allah untuk penyelamatan dunia
Dalam doktrin ini diterangkan bahwa jauh sebelumnya Allah telah mempersiapkan Anak-Nya sebagai tebusan bagi dosa-dosa manusia sehingga orang berdosa mendapatkan pembaharuan dalam Yesus dan dapat menikmati hidup dalam persekutuan yang intim dengan Allah.
2. Kedatangan Yesus Kristus untuk penyelamatan dunia
Dalam Perjanjian Lama telah banyak nabi-nabi yang bernubuat tentang kedatangang sang penyelamat dunia, misalnya dalam Mik 5:1.
3. Kedatangan Yesus Kristus sebagai Mesias
Kata Mesias berati yang diurapi. Diurapi untuk melakukan pekerjaan besar yang telah dirancang Allah sebelumnya. Sang Mesias lahir dengan sederhana namun dalam kesedarhaan-Nya, Ia telah menaklukan maut di bawah kaki-Nya.
4. Karya Kristus dan kehidupan masa kini
Ada peribahasa mengatakan bahwa “sekalipun yang orang yang berkata telah mati namun kata-katanya akan tetap hidup”. Itulah yang terjadi bagi Kekrietenan bahwa sekalipun Kristus telah mati dan sudah tidak ada lagi dalam dunia dalam wujud manusia tetapi Firman yang telah disampaikan-Nya akan tetapi hidup dan justru telah menghidupkan banyak orang yang telah mati dalam dosa. Tidak hanya itu saja pada saat ini kita telah diberikan penghibur yaitu Roh Kudus yang senantiasa bersemayam dihati orang-orang yang selalu merindukan pelataran Tuhan.
IX. Roh Kudus
1. Oknum Roh Kudus
Menganai Roh kudus dikatakan bahwa Ia adalah Allah itu sendiri. Roh Allah adalah Allah bukan manusia dan bukan unsur rohani di dalam manusia, bukan intipati yang hakiki di dalam manusia. Roh Kudu adalah Allah sendiri yang datang kepada kita dan berkenan menciptakan suatu tempat di dalam hati kita, artinya: diiadakan-Nya suatu hubungan yang sebelumnya tidaklah terdapat antara manusia dengan Allah.
2. Pekerjaan Roh Kudus
Di dalam Alkitab bahwa Roh Kudus benar-benar masuk kedalam hidup kita dan kedalam hidup kita dan kedalam diri kita sendiri, sedemikian bera't ditekankan hingga nampaknya Ia menjadi satu dengan kita, Roh Kudus “diam” di dalam di dalam diri kita (Rom 8:9,11; 1 Kor 3:16; 6:19,12; 2 Kor 6:16), karena itu Ia adalah petaruh ataupun panjr, yang kini diberikan kepada kita sebagai jaminan tentang keselamatan yang dijanjikan (2 Kor 1:22; 5:5; Ef 1:14). Bersama-sama dengan Roh orang beriman (bandingkan Rom 1:9), Roh Kudus memberi kesaksian kepada kita bahwa sungguh kita menjadi anak-anak Allah (Rom 8:16). Segala sesuatu diselidiki-Nya, bagi kita dan di dalam kita, juga rencana keselamatan oleh Allah (1 Kor 2:10 dyb). Ia berdoa bagi kita, namun doa itu adalah doa kita sendiri (Rom 8:26). Oleh Roh Kudus kasih Allah dicurahkan kedalam hati kita (R om 5:5). Kelahiran kembali serta pembaruan manusia adalah pekerjaan Roh Kudus (Yoh 3:3,8). Kepada orang-orang yang beriman dikaruniakan Roh Kudus dan sungguh Ia ada di dalam kita ( Yoh14:17; 2 Tim 1:7). Orang-orang beriman “mempunyai” Roh itu (2 Kor 4:13). Itulah sebabnya kita menjadi “anak-anak Allah” yang boleh menyebut Allah itu “Bapa”, oleh sebab percaya kepada Yesus Kristus (Rom 8:15, Gal 4:6).
3. Karya Roh Kudus dalam Kehidupan sehari-hari
Menurut susunan pengakuan Iman Rasuli, dalam bagian pertama dikatakan siapa dan bagaimana Allah dalam dirinya sendiri: Bapa yang mahakuasa, Khalik langit dan bumi, bagian kedua adalah menganai Yesus Kristus, yang di dalamnya kita menemukan, siapa dan bagaimana Allah itu bagi kita dan apa yang telah dilakukan-Nya bagi kita : oleh kedatangan Kristus di bumi ini, oleh kematian serta kebangkitan-Nya telah disediakan-Nya keselamatan bagi kita manusia. Bagian ketiga pengakuan iman itu seakan-akan lebih tegas dan lebih langsung ditujukan kepada manusia, kepada diri kita sendiri. Dalam bagian ditegaskan bahwa secara langsung Allah mau bekerja dalam diri kita, agar kita dapat ambil bagian dalam keselamatan itu. Apabila orang berbicara tentang Allah, sebagaimana secara langsung ia mau bekerja dalam diri kita, maka orang berbicara tentang Allah sebagai Roh kudus.
X. Gereja dan Sakramen
1. Pengertian Gereja dan Sakramen
a) Kata “Gereja” berasal dari bahasa Purtugis yaitu, Igreja yang maknanya dapat kita telusuri dari bahasa Yunani, yaitu Eklesia. Eklesia terdiri dari dua kata, ek (dipanggil dari, keluar dari) dan kaleo (kegelapan). Dapat kita rumuskan bahwa Gereja adalah orang yang dipanggil dari kegelapan menuju ke terang Kristus. Dalam Kidung Jemaat ada syair lagu yang mengatakan “gereja bukanlah gedungnya dan bukan pula menaranya, bukanlah pintunya lihat di dalamnya gereja adalah orangnya”. Dari penggalan syair lagu ini terlukis bahwa gereja adalah orangnya dan bukan bangunannya. Yesus Kristus datang kedalam dunia bukan untuk menyelamatkan bangunan gereja, bukan juga “asesoris” yang ada di dalamnya dan bukan pula halaman gereja, tetapi Yesus datang bagi manusianya.
b) Dalam bahasa Indonesia kata “sakramen” berasal dari bahasal Latin, sacramentum. Kata Latin sacramentum berakar pada kata sacr, sacer yang berarti kudus, suci, lingkungan orang kudus atau bidang yang suci. Kata latin sacrare berarti menyucikan, menguduskan, atau mengkhususkan sesuatu atau seseorang bagi bidang yang suci atau kudus. Kata sacramentum menunjuk tindakan penyucian itu ataupun hal yang menguduskan. Adapun dalam masyarakat yunani kuno dahulu, sacramentum juga digunakan menurut dua pengertian yang sangat konkret tetapi religius juga. Pertama, kata sacramentum menunjuk sumpah prajurit yang digunakan untuk menyatakan kesediaan diri seorang untuk mengabdikan diri atau menguduskan diri bagi dewata dan negara. Kedua, kata sacramentum menunjuk pada uang jaminan atau denda yang di taruh dalam suatau kuil dewa oleh orang-orang atau pihak-pihak yang berpekara dalam pengadilan. Pihak yang menang dalma perkara tersebut boleh mengambil kembali uangnya, sementara pihak yang kalah harus merelakan uangnya menjadi milik dewa atau negara. Keputusan hakim dianggap sebagai keputusan dewa sendiri.
2. Sakramen dalam Gereja
Dalam Gereja Protestan dikenal dua sakramen, yaitu perjamuan kudus dan baptisan kudus. Berbeda halnya dengan Roma Katolik yang melaksanakan tujuh sakramen, diantaranya baptisan, penguatan, Ekaristi, pengampunan dosa, perminyakan suci, perkawinan dan tahbisan.
XI. Trinitas
1. Pokok Persoalan
Salah satu doktrin yang sulit atau mungkin yang paling sulit dalam kekristenan adalah Trinitas yang dalam sejarah penyusunan telah menimbulkan perdebatan diantara bapak-bapak gereja di awal-awal abad masehi. Di dalam Alkitab sendiri tidak terdapat suatu istilah yang dapat diterjemahkan dengan kata “Tritunggal” atau suatu ayat tertentu yang mengandung dogma tersebut. Alasan yang menimbulkan perumusan dogma itu. Mungkin terdapat dalam 1 Yoh 5:7-8. Tetapi sebagian besar dari ayat-ayat itu agaknya belum tertera dalam naskah aslinya. Ada sejumlah ayat-ayat Alkitab yang dapat bisa dijadikan petunjuk-petunjuk bagi tentang ajaran tritunggal, misanya kata “Kita” dalam Kej 1:26 dapat diartikan sebagai petunjuk bahwa di dalam hakekat Allah yang esa itu seakan-akan ada “bentuk jamak”. Dalam “berkat Imam Besar” (Bil 6:24-26) kata “TUHAN” diulangi tiga kali; bandingkan 2 Kor 13:13 yang sejak dahulu dalam jemaat Kristen merupakan imbangan berkat Iman Besar itu.
Kesulitan untuk mengerti Trinitas karena beberapa sebab:
a) Kebenaran ini bersifat wahyu, maksudnya bukan hasi dari dari spekulasi pikiran manusia tetapi dari Allah sendiri.
b) Kebenaran ini kebenaran sang pencipta, maksudnya bahwa kebenaran ini dari dalam diri sang pencipta sendiri, bukan kebenaran yang ada di dalam alam penciptaan.
c) Doktrin ini merupakan doktrin tentang Yang Satu-Satunya. Doktrin Trinitas ini adalah doktrin atau kebenaran mengenai Allah yang satu-satunya, Allah Yang Maha Esa (The Only One God). Karena Allah satu-satunya, maka dia tidak ada bandingan-Nya, tidak ada yang menyamai-Nya.
2. Upaya memahami/menjelaskan Trinitas
Telah banyak analogi-analogi yang bermunculan sebagai cara untuk memahami Trinitas, misalnya analogi air, uap dan es, analogi bentuk, bau dan warna bunga, analogi matahari, sinarnya dan panasnya, analogi tubuh jiwa dan roh, analogi bapa, sopir dan direktur. Beberapa analogi tersebut belum tepat untuk menggambarkan tentang Alllah Tritunggal. Jikalau semua analogi yang dipaparkan diatas belum tepat maka kita dapat melihatnya dalam pemikiran-pemikiran seperti ini.
Orang Kristen hanya memiliki satu Kitab Suci, yaitu Alkitab yang terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Tetapi jika orang Kristen hanya memiliki satu Kitab, bagaiamana semua orang Kristen membacanya, bukankah harus antri? Tidak perlu, kita bisa masing membeli satu Kitab. Apakah itu berarti orang Kristen mempunyai banyak Kitab? Jawabannya: tidak. Orang Kristen tetap hanya mempunyai satu Kitab.
3. Makna ajaran Trinitas
Karena kesulitan yang luar biasa dalam menjelaskan doktirn Trinitas bukanlah berati bahwa doktrin ini tak dapat dipahami. Dari kesulitan itulah Allah adalah Allah yang luar biasa sehingga tak dapat diselami secara menyeluruh oleh rasio manusia yang terbatas.
XII. Eskatologi
1. Tanda-tanda menjelang akhir zaman
a) Proklamasi Injil kepada semua bangsa
b) Keselamatan bagi Israel hingga jumlah yang penuh
c) Masa sengsara
d) Murtad
e) Antikritus
f) Perang
g) Gempa bumi
h) kelaparan
2. Yesus Kristus dan akhir zaman
Pemberitaan Yesus hanya kita kenal melalui kesaksian Injil-injil sinoptik. Salah satunya mengenai Kerajaan Allah (basileia tu theu) adalah istilah pokok pemberitaan Yesus memproklamasikan bahwa waktunya telah genap “kerajaan Allah sudah dekat” (Mar 1:15). Dalam ayat-ayat yang lain juga diterangkan bagaimana Yesus akan datang untuk yang kedua kalinya sebagai hakim bagi dunia ini.
3. Pengharapan orang percaya
Karena Kristus merupakan kesudahan/kegenapan hukum taurat (Rm 10:4). Dengan demikian, sudah genap masanya, seperti dirumuskan paulus (Gal 4:4), sejajar dengan Injil Markus 1:15. “Masa perkenaan” telah dimulai, “hari keselamtan” telah timbul (2 Kor 6:2. Konsekuensinya besar bagi hidup orang percaya karena mereka tidak lagi hidup di dalam gelap melainkan di dalam terang Kristus sampai selama-lamanya.

Admin Saya seorang yang sangat ingin belajar lebih dalam tentang dunia Internet.

Post a Comment for "Ringkasan Materi Dogmatika"