Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Teologi Kontekstual



RESUME PERTEMUAN PERTAMA (TEOLOGI KONTEKSTUAL)

A. Teologi Kontekstual Sebagai Imperatif Teologis
Kontestualisasi teologi yakni upaya untuk memahami iman Kristen dipandang dari segi suatu konteks tertentu dan sungguh merupakan sebuah imperatif teologis.
B. Kontekstualisasi Sebagai Sesuatu Yang Baru Dan Sekaigus Tradisional
-          Teologi Kontekstual Sebagai Sesuatu Yang Sama Sekali Baru
Teologi dimengerti sebagai sebuah refleksi dalam iman menyangkut dua loci theologici (sumber berteologi), yakni Kitab Suci dan tradisi, yang isinya tidak bisa dan tidak pernah berubah dan berada di atas kebudayaan serta ungkapan yang dikondisikan secara historis. Sebagaimana konteks kultural dan historis main peran dalam pembangunan realitas di mana kita hidup, demikian pula konteks kita mempengaruhi pemahaman kita akan Allah serta ungkapan Iman kita. Zaman telah berlalu kini kita hanya bisa berbicara tentang sebuah teologi yang mempunyai makna pada satu tempat tertentu dan pada waktu tertentu. menghiraukan du
-          Kontekstualisasi Sebagai Sesuatu Yang Tradisional
Berteologi dengan mengindahkan kebudayaan  dan perubahan sosial berpisah dari cara berteologi tradisional atau klasik, namun setiap telaah tentang sejarah teologi menyingkapkan bahwa setiap teologi yang autentik telah berakar sangat mendalam pada sebuah konteks tertentuh, entah secara tersiart atau nyata. Kitab Suci Kontemporer misalnya berhasil menyingkapkan bahwa tidak ada hanya satu teologi dari Kitab Suci Ibrani atau Kristen, apalagi Kitab Suci keseluruhan. Kitab Ibrani terdiri dari teologi Yahwista, teologi Elohista, teologi Para Imam, teologi Deuteronomis dan teologi-teologi kebijaksanaan dari semua teologi-teologi ini mempunyai perbedaan dan terkadang saling bertentangan (karena zaman yang telah berbeda dan kebudayaan yang berbeda pula)
C. Mengapa Dewasa Ini Teologi Mesti Kontekstual
Ada dua faktor mengapa dewasa ini teologi mesti kontekstual, yang pertama disebut faktor eksternal: peristiwa-peristiwa historis, aliran-aliran pemikiran, pergeseran-pergeseran budaya dan kekuatan-keuatan politik, dan faktor internal: menonjolkan faktor-faktor internal tertentu dalam iman Kristen itu sendiri yang menunjuk tidak saja tentang kemungkinan tetapi juga keniscayaan berteologi  seturut konteks.
-          Faktor-faktor Eksternal
Yang pertama dari faktor-faktor eksternal ini adalah suatu ketidak puasan umum baik di duni pertama dan ketiga menyangkut pendekatan-pendekatan klasik terhadap teoligi seperti filsafat klasik. Alasan kedua adalah adanya sebuah perbedaan teologi tradisonal  dan ciri opresif dari pendekatn-pendekatan yang lebih tua. Yang ketiga, bertumbuhnya jati diri Gereja-Gereja lokal juga memberi sungbangsih kepada keniscayaan pengembangan teologi-teologi yang sungguh-sungguh bersifat kontekstual J.Rizal menulis dalam novelnya bahwa “tidak ada tiram dimana tidak ada budak” yang di maksudkan Rizal ialah bahwa manakal seseorang, suatu bangsa, atau kebudayaan mencapai kesadaran yang jelas menyangkut jati dirinya, maka tidak ada satu orang, bangsa ataupun kebudayan manapun yang bisa memperalatnya, menindasnya atau menyusupkan hal-hal yang tidak dikehendaki atau bersifat merusak ke atasnya. Yang ke empat yaitu  faktor pemahaman  tentang kebudayaan yang disediakan oleh ilmu-ilmu sosial kontemporer, Bernard Lonergan membedakan anatar paham kebudayaan yang klasik dan paham kebudayaan empiris, menurut paham kebudayaan Klasik hanya ada satu kebudayaan yaitu bersifat Universal dan Abadi.

-          Faktor-faktor Internal
Yang pertama dari faktro ini adalah ciri inkarnatid agama Kristen, Begitu besar kasih kasih Allah (Yoh 3:16) sehinggah Allah berkehendak untuk membangun relasi dengan manusia, ketika Allah melakukan hal ini maka sarana komunikaso dengan manusia harus memadai gar setiap manusia dapat memahaminya oleh karena itu Allah menjadi manusia (Yoh.1:14) bukan secara umum melainkan secara partikular. Faktor yang kedua adalah ciri Sakra Mental dari realitas, apabila hal-hal biasa dalam kehidupan sedemikian transparan bagi kehadiran Allah, maka kita dapat berbicara tentang kebudayaan dan tentang peristwa-peristiwa dalam sejarah tentang konteks sebagai sifat sakramental. Faktor ketiga ialah adanya pergeseran dalam pemahaman tentang hakikat pewahyuan ilahi sebagai sebgua faktor internal yang menentukan ciri kontekstual teologi. Dan faktor keempat ialah ada dalam agama Kristen itu sendiri menuntut suatu pendekatan kontekstual dalam ihwal berteologi ialah ciri katolisitas Gereja.


Nama               :  Deigracia Tulak (20133725)

Jurusan            :  Kepemimpinan Kristen

Admin Saya seorang yang sangat ingin belajar lebih dalam tentang dunia Internet.

Post a Comment for "Teologi Kontekstual"