Kesusastraan Perjanjian Lama
Sumber Gambar: kompasiana
Kesusastraan
Perjanjian Lama
Kesusastraan Perjanjian Lama bersifat aneka-ragam,
misalnya: Prosa biasa, prosa gaya cerita,tulisan gaya puisi, catatan-catatan
hukum, perkataan-perkataan berupa nasehat dan himbauan syair dan amsal, dan
nubuat. Namun Hermann Gunkel menambahkan beberapa jenis sastra lagi seperti
mite, dongeng dan legenda. Menurut pengertian umum mite mempunyai hubungan erat
dengan adat atau tradisi khususnya yang berhubungan dengan agama selain itu
mite juga berhubungan dengan kejadian- kejadian alamiah dan sifat- sifat dan
tindakan-tindakan dewa yang disembah oleh sebuah suku tertentu. Perbedaan
antara mite dengan dongeng atau legenda terdapat dalam fakta bahwa mite
merupakan khayalan atau fiksi semata-mata sedangkan dongeng atau legenda
mendapatkan dasarnya dari fakta atau peristiwa bersejarah yang pernah terjadi.
Secara umum, tujuan ilmu sejarah ialah penyelidikan
aktivitas-aktivitas manusia pada sebuah periode atau periode-periode tertentu yang
telah lalu, dengan maksud mengetahui sifat dan makna prestasi-prestasi manusia
itu. Namun sejarah yang tercatat dala Perjanjian Lama hanya bersifat selektif
dan sebagian saja. Hal ini disebabkan Perjanjian Lama bukan sebuah buku sejarah
melainkan buku agama atau theologia. Penulis-penulisnya memperhatikan secara
khusus periode-periode, oknum- oknum, lembaga-lembaga, dan peristiwa-peristiwa
yang dianggap penting secara agamawi. Perluh di tegaskan bahwa bagian- bagian Perjanjian Lama yang berupa
catatan sejarah dikarang dengan tujuan theologis. Dalam pengertian orang-orang
Israel, peristiwa-peristiwa yang mereka alami bukan hanya serentetan
peristiwa-peristiwa yang terjadi secara kebetulan saja melainkan pasti
mempunyai hubungan erat dengan pelaksanaan perjanjian yang telah diadakan Tuhan
dengan mereka. Walaupun demikian,tidak benar juga jika peristiwa-peristiwa itu
sendiri diceraikan sama sekali dari penafsiran theologinya, seperti
kecenderungan segolongan sarjana tertentu. Penafsiran secara theologia yang
benar selalu perluh dihubungkan erat dan disesuaikan dengan fakta- fakta
sejarah yang menjadi dasarnya, karena jika tidak demikian segala macam
penafsiran subyektif dapat diberikan begitu saja menurut kesukaan tiap-tiap
sarjana sendiri.
Maka dapat disimpulkan bahwa catatan-catatan
Perjanjian Lama bukan mite atau dongeng melainkan riwayat sejarah yang pada
dasarnya maupun secara detail dapat dikatakan otentik. Meskipun demikian perluh
ditekankan Perjanjian Lama yang utama adalah theologis bukan historis, karena
tujuan utamanya ialah untuk mencatat tindakan-tindakan Allah dalam urusanNya
dengan manusia secara umum dan umat Israel secara khusus, yang semuanya
bersifat menebus dan menyelamatkan manusia dari dosanya.
Nama : Elza Iryanti
NIRM :
2020143810

Post a Comment for "Kesusastraan Perjanjian Lama"