Laporan Baca The Living Church
Sumber Gambar: katabuku
Identitas
Buku:
Judul Buku : The Living Church
“Menanggapi pesan Kitab Suci yang bersifat
tetap dalam budaya yang berubah”
Penulis :
John R. W. Stott
Penerbit :
PT BPK Gunung Mulia
Tahun Terbit : 2008
Jumlah Halaman : 178 Halaman
Bab I Pokok-pokok :
“Visi Allah untuk GerejaNya”
Pokok-pokok yang disebut Lukas dalam Kisah Para
Rasul 2 mengandung sebuah tanda-tanda gereja yang hidup dewasa ini, Lukas
memusatkan perhatiannya pada empat ciri:
1. Gereja
yang Belajar
Gereja yang hidup adalah gereja yang belajar, gereja
yang tunduk pada otoritas mengajar para rasul. Para pendeta menjelaskan Kitab
Suci dari atas mimbar, para orangtua mengajarkan Kitab Suci kepada anak-anak
mereka di rumah, dan para anggota gereja membaca dan merenungkan Kitab Suci
setiap hari agar bertumbuh dalam pemuridan Kristen. Roh Allah memimpin jemaat
Allah untuk menghoramati firman Allah. Kesetiaan kepada ajaran para rasul
adalah ciri pertama dari gereja yang hidup dan autentik. “Mereka bertekun dalam
pengajaran rasul-rasul” (ayat 42).
2. Gereja
yang Mengasihi
Orang-orang Kristen itu saling mengasihi, yang saam
sekali tidak mengherankan karena buah pertama dari Roh adalah kasih (Galatia
5:22). Secara khusus, mereka mengasihi dan memerhatikan saudara-saudari mereka
yang miskin, dan karena itu mereka berbagi kekayaan dengan saudara yang miskin
itu. Prinsip Kristen untuk berbagi secara sukarela ini benar-benar prinsip yang
permanen. Demikianlah gereja yang hidup adalah gereja yang mengasihi. Kemurahan
hati telah dan selau menjadi ciri umat Allah, Allah kita adalah Allah yang
murah hati: gerejaNya haruslah murah hati juga.
3. Gereja
yang Beribadah
Ibadah gereja perdana bersifat baik formal maupun
informal, penuh sukacita sekaligus penuh kekhidmatan. Kita perlu menyingkapkan
kembali keseimbangan Alkitabiah nin dalam ibadah Kristen kita dewasa ini.
4. Gereja
yang Mengabarkan Injil
Yang sungguh-sungguh
perlu kita lakukan adalah merendahkan diri kita di hadapan Tuhan, dan mencari
kepenuhan, bimbingan, dan kuasa Roh Kudus. Hanya denga itulah gereja-gereja
kita sekurang-kurangnya akan mendekati pokok gereja yang hidup dalam ajaran
para rasul, dalam persekutuan penuh kasih, dalam ibadah penuh sukacita, dan
dalam pengabaran Injil keluar dan terus-menerus.
Bab
II Ibadah: “Memuliakan Nama Allah yang Kudus”
Panggilan gereja untuk mempersembahkan ibadah rohani
kepada Allah merupakan hal yang penting sekarang ini, karena bahkan dalam dunia
barat “sekuler” terdapat kelaparan yang meluas terhadap “spiritualitas tau
kerohanian”. Pencarian terhadap yang transenden ini merupakan tantangan bagi
kita, bagi kualitas ibadah umum kita. Kini, dalam terang belas kasih Allah yang
besar yang telah kita terima, ia mendorong semua anggota keluarga Allah dari
berbagai bangsa untuk mempersembahkan tubuh kita sebagi korban yang hidup bagi
Allah. Ia menyebut mempersembahkan fisik kita sebagai “ibadah rohani”.
Logikos adalah
kata yang dipakaiNya yang dapat diterjemahkan baik sebagai “masuk akal” (masul
akallah menaggapi belas kasih Alah) atau sebagai “rasional” (akal budi,
persembahan hati dan budi, rohani dilawankan denga upacara semata-mata). Jadi
ibadah yang dimaksudkan Paulus adalah berpikir tentang ibadah yang diungkapkan
bukan hanya dalam gedung gereja melainkan juga dirumah dan ditempat kerja. Satu
jenis ibadah tidak seimbang jika tidak bersama yang lain.
Bab
III Pengabaran Injil : “Misi melalui Gereja Setempat”
Menurut defenisi yang diberikan oleh para petinggi
Gereja Anglikan kepada kita, mengabarkan Injil bererti “dengan kata dan perbuatan
memperkenalkan kasih Krisrus yang disalibkan dan bangkit dalam kuasa Roh Kudus,
sehingga orang bertobat, percaya, dan menerima Kristus sebagai Juruselamat
mereka, dan dengan taat melayani Dia sebagai Tuhan dalam persekutuan dengan
gerejaNya”.
Teologi
Alkitabiah dan stategi praktis bergabung menjadikan gereja setempat sebagai
agen utama pengabaran Injil. Namun, jika gereja setempat ingin melaksanakan
peran yang diberikan Tuhan ini, gereja itu harus memenuhi empat syarat. Ia
harus memahami dirinya sendiri
(teologi tentang gereja) menangkap identitas gendanya, mengorganisasi dirinya sendiri (srtruktur gereja) mengembangkan
strategi misi yang mementulkan identitas gandanya, mengungkapakan dirinya sendiri (pesan gereja) merumuskan Injilnya
dalam cara yang setia kepada Kitab Suci sekaligus relevan bagi dunia masa kini,
dan menjadi dirinya sndiri (kehidupan
gereja) secara moral dan spiritual sepunuhnya diubah menjadi komunitas kasih
yang melaluinya Allah tyang tak kelihatan menyatakan diriNya kepada dunia.
Bab IV Pelayanan : “Yang Keduabelas
dan Yang Tujuh”
Sebagian
besar gereja memiliki semacam kepemimpinan, penggembalaan, atau pelayanan,
kendati berbeda satu sama lain dalam hal lain pemahaman hal-hal itu. Kendati
demikina Kisah Para Rasul memberikan terang mengenai tujuan Allah terhadap para
pemimpin gereja, khusunya pada Pasal 6 (penunjukan Ynag Tujuh) pada Pasal 20
(nasihat Paulus kepada para tua-tua gereja Efesus).
Jadi,
para rasul menyarankan, yaitu agar gereja memilih tujuh orang dari antara mereka
yang dikenal “penuh roh dan hikmata”, mungkin berarti “berpikiran rohani dan
praktis”. Kemudian para rasul mendelegasikan pemeliharaan para janda kepada
mereka, dari Ynag Keduabelas ke Yang Tujuh, sementara mereka akan memusatkan
pikiran oada doa pelayanan firman. Karena tanpa doa sama sekali tidak mungkin
benih yang ditaburkan oleh Roh akan menghasilkan buah (ayat 3-4).
Setiap
orang tidak dipanggil u ntuk melakukan segala hal, tetapi dipanggil untuk:
a. Allah
memangil semua orang pda pelayanan (diakonia)
b. Allah
memanggil orang yang berbeda untuk pelayanan yang berbeda
c. Allah
mengharapkan mereka yang dipanggil pada pelayan firman memusatkan pikiran pada
panggilan mereka dan tak ada alasan cukup membuat mereka dikacaukan oleh
administrasi sosial.
Diakonia adalah
kata dasar untuk pelayanan atau pengabdian. Sebagai kata dasar, kata itu kurang
spesifik sampai kita tambahkan kata sifat-pa-toral, sosial, injili, misioner,
medis, legal, edukatif, administratif, dan banyak laninnya. Sebagai contoh,
dalam Roma 13:4 pemerintah dan petugas negara lainnya disebut diakonia Theou, para hamba Allah, ungkapan yang sama dapat diterapkan pada
pendeta dan pelayan gereja lainnya.
Prinsip itu adalah bahwa setiap bahkan semua orang
Kristen dipanggil untuk pelayanan (diakonia).
Karena kita adalah pengikut Dia yang berkata bahwa Dirinya datang bukan
untuk dilayani melainkan untuk melayani (Markus 10:45).
Bab
V Persekutuan : “Implikasi-implikasi Koinonia”
Jantung kata koinonia
adalah kata sifat koinos, artinya “bersama”, sehingga koinonos berarti “rekan berbagi” dan kata kerja koinoneo berarti “bernagi”. Secara
khusus, koinonia mengandung kesaksian
tentang tiga hal yang bersama-sama kita pegang. Pertama, ia mengungkapkan yang
kita bagi bersama (warisan bersama),
kedua yang kita bagikan bersama
(pelayanan kita bersama), dan ketiga yang saling
kita bagikan satu sama lain
(tanggung jawab kita bersama).
Partisipasi
kita bersamalah (koinonia kita) dalam
Allah (Bapa, Putera, dan Roh Kudus) yang mempersatukan kita. Dalam hal ini
paling diwujudkan dalam Perjamuan Tuhan atau Perjamuan Kudus. Karena bukankah
piala syukur yang kita persembahkan adalah partisipasi kita dalam darah
Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan dan bagi-bagikan adalah
partisipasi kita dalam tubuh Kristus? (1 Korintus 10:16).
Bab VI Berkhotbah : “Lima Paradoks”
Di
dalam berkhotbah lima paradoks yang dimaksudkan disini adalah : pertama,
Alkitabiah sekaligus kontemporer, khotbah Kristen yang kontemporer adalah
khotbah yang alkitabiah sekaligus
kontemporer. Khotbah merupakan penguraian Kitab Suci yang berkaitan dengan
dunia dimana kita tinggal. Kedua, Otoritatif sekaligus tentatif, ketiga,
profetif sekaligus pastoral, keepat, Karunia sekaligus keahlian yang
dipelajari, dan yang keliama adalah pemikiran mendalam sekaligus penuh
perasaan.
Paradoks
kelima maksudnya adalah bahwa dalam semua khotbah yang autentik, budi dan emosi
keduanya terlibat; pemikiran yang jernih dan perasaan yang mendalam
digabungkan. Beberapa pengkhotbah sangat penuh dengan pemikiran yang mendalam.
Meja mereka menggunung denag buku komentar dan buku lainnya. Pengajaran
alkitabiah mereka tanpa catat. Mereka tidak hanya belajar, mereka juga membawa
buah-buah belajar mereka ke mimbar. Setiap khotbah adalah hasil dari eksegesis
yang menakjubkan dan aplikasinya.
Bab
VII Persembahan : “Sepuluh Prinsip”
Dalam
2 Korintus 8 dan 9, Rasul Paulus mengembangkan sepuluh prinsip persembahan
Kristen. Pertama, persembahan Kristen adalah suatu ungkapan rahmat Alllah. Jadi, disinilah Paulus mulai dengan
kasih karunia Allah dalam jemaat Makedonia di Yunani bagian Utara dan dengan
rahmat Allah yang sama dijemaat Akhaya di Yunani bagian selatan. Kemurahan hati
Kristen mereka adalah luapan kemurahan Allah.
Kedua,
persembahan Kristen dapat menjadi suatu charisma,
yaitu karunia Roh Kudus. Semua orang
Kristen dipanggil untuk menjadi murah hati, tetapi beberapa diberi anugerah
khusus “karunia untuk memberi”. Mereka yang dipercayai mengelola sumber-sumber
finansial yang signifikan mempunyai tanggung jawab khusus untuk menjadi penjaga
yang baik atas sumber-sumber itu.
Ketiga,
persembahan Kristen diilhami oleh salib
Kristus. Saat kita memberikan persembahan, bolehlah kita juga merefleksikan
salib, dan semua yang telah didapatkan bagi kita melalui kematian Kristus.
Betapa tidak sepadannya kekayaan duniawi kita dibandingkan dengan itu semua.
Keempat, persembahan Kristen adalah
persembahan yang proposional ( proposional dengan pendapatan kita).
Kelima,
persembahan Kristen menyumbang pada
kesetaraan. Prinsip ketujuh adalah bahwa persembahan Kristen dapat dibangkitakan denga sedikit persaningan
sehat. Di beberapa gereja, majelis tau tua-tua gereja diundang ke muka
seluruh jemata untuk menjelaskan lebih dahulu proyek pembangunan gereja, dan
jumlah total dana yang telah terkumpul (tanpa menyebut nama) diumumkan sebelum
dihari pengumpulan dana itu. Hal ini dapat membangkitkan kepercayaan anggota
gereja karena tahu bahwa pemimpin-pemimpin mereka sungguh berada dibelakang
proyek pengumpulan dan khusus ini, yang memerlukan banyak pemberian
persembahan.
Prinsip
kedelapan adalah bahwa persembahan
Kristen menyerupai tuain. Di sini, dua prinsip tuain ditepkan pada
persembahan Kristen. Pertama, kita menuai apa yang kita tabur, menabur sedikit
akan menuai sedikit, dan siapa yang menabur banyak akan menabur banyak pula.
Kedua, yang kita tuai mempunyai banyak tujuan, baik untuk kebutuhna konsumsi
maupun untuk musim tabur yang selanjutnya.
Prinsip
kesembilan adalah bahwa persembahan
Kristen memiliki makna simbolis. Akhirnya, persembahan Kristen menyuburkan ucapan syukur kepada Tuhan.
Pemberian Kristen yang autentik menbuta orang lain tidak hanya berterima kasih
kepada kita, yang memberi, tetapi juga bersyukur kepada Allah, dan melihat
pemberian kita kepada mereka dalam terang dan kasih karuniaNya yang btak
terkatakan, ditunjukkan secara paling agung dalam pemberian puteraNya.
Bab
VIII Dampak “ Garam dan Terang “
Beberapa
kebenaran tentang garam dan terang, pertama orang-orang
Kristen berbeda secara radikal denga orang non-Kisten, atau harus berbeda.
Kedua gambaran itu (garam dan terang) menempatkan kedua komunitas itu saling
berhadapan. Kedua, orang-orang Kristen
harus meresap kedalam masyrakat non-Kristen. Serupa dengan itu, garam juga
harus meresapi daging. Pelita tak berguan jika disimpan dalam lemari, dan garam
tak berguna jika masih berada diwadahnya. Ternag harus bercahaya bagi
kegelapan, dan garam harus meresap kedalam daging.
Kita
tegaskan bahwa orang-orang Kristen harus
mempertahankan keberbedaan Kristen mereka. Garam harus mempertahankan
keasinannya, jika tidak garam tidak berguna lagi. Hal yang sama berlaku untuk
terang. Terang harus mempertahankan cahayanya jika tidak, terang tak dapat
mengusir kegelapan.
Jadi
keberbedaan Kristen kita dalah bahwa yang pertama, Kristus memanggil kita pada hidup benar yang lebih besar. Kedua, Kristus memanggil kita pada kasih yang lebih
luas. Yang ketiga, Kristus memanggil
kita pada ambisi yang lebih mulia. Jadi inilah panggilan Kristus pada hidup
benar yang lebih besar (hidup benar yang keluar dari hati), pada kasih yang
lebih luas (kasih kepada musuh), dan pada ambisi yang lebih mulia (hukum Tuhan
dan kebenaran Tuhan). Hanya denga itu garam kita akan tetap asin, dan terang
kita akan bercahaya, sehingg kita akan menjadi garam dan terang dunia.
Jadi, marilah
kita menawarkan diri kepada Tuhan sebagia agen-agen perubahan. Janganlah kita
mengasihi diri kita sendiri dengan mengembangkan kompleks minoritas.!
Komentar:
Kelebihan Buku: buku ini menggunakan bahasa yang
sederhana dan mudah dipahami, simpel, dan tidak bertele-tele.
Kekurangan Buku: terdapat beberapa kata yang sukar
dipahami dan tidak nyambung dengan kata-kata selanjutnya.
Penulis : Elza Iryanti

Post a Comment for "Laporan Baca The Living Church"