Mengenal Teologi Sosial
A. Pengertian
teologi sosial
1. Landasan
teologis usaha teologis sosial
Teologi
kristen mempunyai fungsi dalam jemaat kristen yang ingin menghayati dan menjadi
saksi Injil Yesus Kristus dalam situasi masyarakat yang konkret. Disitulah kita
menjalankan teologi sosial. Cara berteologi seperti teologi sosial tampak dalam
“Gaudium et spes” (1965), disitu diyakini bahwa, Allah menjumpai dan memanggil
kita dalam dunia dan sejarahnya. Dunia dan sejarahnya merupakan tempat dimana
Allah sungguh- sungguh hadir dan berbicara. Maka dari itu dunia dan sejarahnya
merupakan locus theologicus. Namun, sadar juga bahwa Gaudium et Spes bersifat
ambivalen, artinya bukan hanya tempat Allah hadir dan berbicara, melainkan juga
tempat yang tetap diresapi oleh kenyataan dosa. Oleh karena itu gereja harus
peduli terhadap dunia dan masyarakat. Gereja menyatakan kepedulian imannya,
direfleksikan dalam terang injil.
Seluruh
teologi Gaudium et Spes berlandaskan pada pemahaman mengenai gereja sebagai
sakramen keselamatan. Gereja dan perbuatannya harus melibatkan diri pada
penderitaan, pergulatan dan usaha pembebasan manusia, agar dengan demikian
sungguh menjadi sakramen. Diharapkan bahwa gereja semakin hidup untuk kerajaan
Allah. Gereja membiarkan Allah menjadi dasar dan menentukan kehidupan dunia dan sejarahnya. Sehingga usaha
kontekstual teologi seperti itu tepat
sebagai usaha membangun Gereja setempat untuk menjadi saksi Injil Yesus
Kristus.
2. Teologi
sosial dalam arti luas dan sempit
Teologi
sosial dalam arti luas, yaitu sebagai teologi kontekstual atau semacam teologi
fundamental, yaitu merupakan orientasi seluruh teologis dan bukan merupakan
bagian atau cabang teologi tertentu. Teologi
selalu berbicara tentang masyarakat dan harus mempunyai ciri soaial. Jadi
teologi dikembangkan dan dijalankan
dalam cakrawala kontekstual kemasyarakatan. Sedangakn teologi sosial
dalam arti sempit, yaitu sebagai teologis khusus tentang keterlibatan umat
dalam masalah-masalah masyarakat, misalnya dalam menghadapi tantangan
kemiskinan dan ketidakadilan. Serta tetap memberi perhatian pada dimensi
teologi soaial dalam arti luas, yaitu sebagai teologi fundamental.
3. Dinamika
dan unsur-unsur pokok teologi sosial
Dinamika
pokok dari seluruh proses teologi sosial berjalan melalui empat tahap:
a. Tahap
pertama bertujuan mengenal dan mengalami secara nyata dan langsung situasi atau
masalah sosial melalui observasi parsitifatif.
b. Tahap
kedua adalah menjalankananalisis sosial yang bermaksud untuk menempatkan
pengalaman tadi kedalam konteks masyarakat yang lebih luas.
c. Tahap
ketiga adalah menjalankan refleksi teologis sosial atas apa yang dihasilkan
oleh analisis kemasyarakatan tadi.
d. Tahap
keempat adalah tindakan sebagai perwujudan iman menghadapi masalah-masalah
sosial yang dianalisis dan direfleksikan sebelumnya.
Dinamika
pokok yang menempuh empat tahap tersebut
memuat hubungan timbal balik antara empat unsur, yaitu: (1)
tindakan(persekutuan, pemakluman,ibadat, pelayanan) saling berhubungan dan
saling mempengaruhi, Injil Yesus Kristus: Kerajaan Allah, refleksi, dan
analisis mengenai kenyataan masyarakat yang ada.
4. Kerjasama
antar agama dan antar iman
Realitas
masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang multi religius. Oleh karena itu
perluh mengingat anjuran dari Konsili
Vatikan II dalam deklarasinya mengenai sikap Gereja terhadap agama-agama bukan
Kristen (deklarasi Nostra aetate), yaitu untuk: melindungi, memajukan
bersama-sama keadilan sosial, nilai- nilai moral serta perdamaian dan kebebasan
untuk semua orang.
B.
Proses Teologi Sosial
Umat
manusia selalu mengalami perubahan pandangan yang lebih dinamis dan evolutif
oleh karena itu muncul masalah yang menuntut suatu analisis dan sintesis.
1. Yang
menentukan agenda teologi sosial adalah kenyataan sosial dan penghayatan iman
yang konkret. Refleksi teologi sosial dimulai dengan kenyataan sosial atau
situasi yang dialami bersama dan untuk menangkap situasi di perlukan analisis
yaitu, pertama analisis sosial. Tujuannya ialah melihat goglongan-golongan
sosial dan struktur-struktur soaial yang ada. Kedua analisis historis.
Memperjelas keadaan sekarang ini dan melihat pengaruh masa lalu dan mencoba
membentuk orientasi kemasa depan. Yang ketiga analisis kultural yaitu melihat
aspirasi nilai-nilai yang berlaku, menentukan kerangka acuan tindakan. Dan
kemudian menentukan nilai mana yang menghambat dan yang mana yang mendukung.
Yang keempat analisis personal ialah melihat sejauh mana pribadi terlibat dan
terbuka terhadap situasi yang dialami bersama. Keterbukaan memang sangat penting.
2. Situasi
yang dialami bersama dianalisis secara bertanggungjawab dan dirumuskan
keprihatinan bersama secara teliti dan terinci. Keprihatinan bersama menjadi
tantangan hidup beriman. Keprihatinan iman merupakan pengalaman dan sikap eksistensial dalam hidup
nyata.
3. Keprihatinan
iman dalam hidup nyata di teruskan dengan analisis iman melalui komunikasi
dengan tradisi- tradisi kristiani dimengerti secara luas, yakni yang menampilkan
iman akan Yesus Kristus. Tradisi tertulis meliputi Kitab Suci, ajaran- ajaran
Gereja maupun teologi.
4. Sesudah
itu buat perencanaan pastoral kearah kegiatan pelayanan, kearah gerakan
bersama. Perencanaan akan sungguh bermanfaat jika dievaluasi, maksudnya untuk
mencari langkah- langkah selanjutnya, serta menganalisis dan diharapkan bahwa
refleksi secara kreatif dapat membuahi pengalaman hidup nyata.
Nama : Elza Iryanti
Kelas : B
NIRM : 2020143810
Post a Comment for "Mengenal Teologi Sosial"