Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Teologi Kontekstual Sebagai Imperatif Teologis



Sumber Gambar: wikipedia

Teologi Kontekstual Sebagai Imperatif Teologis
Berteologi secara kontekstual bukan merupakan suatu pilihan yang bersifat fakultatif tetapi kontekstualisasi teologi yakni upaya untuk memahami iman kristen dipandang dari segi suatu konteks tertentu. Teologi dimengerti sebagai sebuah refleksi dalam iman menyangkut dua loci theologoci(sumber berteologi), yakni Kitab Suci dan tradisi, yang isinya tidak bisa dan tidak pernah berubah, dan berada diatas kebudayaan dan ungkapan yang dikondisikan secara historis. Namun yang membuat teologi kontekstual adalah pengakuan akan keabsahan locus theologicus yang lain yakni, pengalaman manusia sekarang ini. Maka sekarang ini kita menyadari bahwa teologi memiliki tiga sumber atau loci theologici: kitab suci, tradisi, dan pengalaman manusia sekarang ini atau konteks. Kalau kita mengakui pentingnya konteks bagi teologi, maka kita juga mengakui betapa amat sangat pentingnya konteks itu demi pengembangan kitab suci dan tradisi. Ketika kita mempelajari kitab suci dan tradisi, kita tidak saja harus menyadari ciri kontekstual yang tak terelakkan, kita juga harus membaca dan menafsirkan keduanya dalam konteks kita sendiri.
Maka kita dapat mengatakan bahwa berteologi secara kontekstual berarti berteologi yang serentak menghiraukan dua hal sekaligus. Pertama, ia menghiraukan pengalaman iman dari masa lampau yang terekam dalam kitab suci, dan dijaga agar tetap hidup, di lestarikan serta dibela, barangkali juga bahkan diabaikan atau ditindas. Kedua, teologi kontekstual secara sungguh- sungguh mengindahkan pengalaman masa sekarang, atau konteks aktual. Sementara teologi harus setia kepada pengalaman dan konteks masa lampau secarah utuh, maka ia menjadi teologi yang autentik hanya apabila apa yang telah diterima itu sungguh- sungguh diambil dan dijadikan sebagai milik kepunyaan kita sendiri.
Pengalaman personal atau komunikal itu hanya mungkin dalam konteks kebudayaan, yakni”sistem konsepsi warisan yang diungkapkan dalam bentuk- bentuk simbolik, olehnya orang mengkomunikasikan, melestarikan serta mengembangkan pengetahuan mereka tentang, dan perilaku terhadap kehidupan”. Kebudayaan itu bisa saja berciri sekular atau religius. Sekular itu seperti kebudayaan seperti yang ada di Eropa, Amerika Utara , Selandia baru, atau Australia. Sedangkan kebudayaan religius berupa kebudayaan yang ada di India, dimana berbagai nilai serta adat kebiasaannya terserap bersama dengan aneka simbol dan mitos dari suatu sistem religius seperti Hinduisme.
Berbicara tentang konteks dalam bingkai “lokasi sosial”seseorang atau suatu komunitas bisa menjadi posisi darinya agar kita bisa memantau berbagai carut marut serta khazanah kekayaan dalam sebuah tradisi. Dan akhirnya, gagasan tentang pengalaman masa kini, yakni konteks kita, mencakup juga realitas perubahan sosial. Dua faktor secara khusus memiliki pengaruh kuat atas perubahan sosial didalam berbagai kebudayaan. Pertama, ada dampak kultural dari modernitas, bersama dengan berbagai revolusi yang dibawa serta oleh media elektronis dan perluasan jaringan global kontemporer.
Ada dua faktor yang menunjukkan pada ihwal mengapa teologi dewasa ini meski mempertimbangkan sungguh-sungguh konteks dalam teologi, yakni pertama eksternal, yakni peristiwa- peristiwa historis, aliran-aliran pemikiran, pergeseran-pergeseran budaya dan kekuatan-kekuatan politik. Kedua, faktor internal, menunjuk pada suatu imperatif kontekstual yang terdapat dalam agama Kristen itu sendiri.


Nama              : Elza Iryanti





Admin Saya seorang yang sangat ingin belajar lebih dalam tentang dunia Internet.

Post a Comment for "Teologi Kontekstual Sebagai Imperatif Teologis"