Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sejarah singkat Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST)

Sumber Gambar: pgi
A. Keluarga Dan Pendidikan A.C Kruyt
Misionaris yang membawa Injil ke Tana Poso ialah seorang bernama Albertus Cristian Kruyt. Satu hal yang unik mengenai keluarga Kruyt bahwa mereka sangat menaruh perhatian terhadapan pekerjaan penginjilan: enam generasi berturut-turut. Albertus Kruyt terhitung sebagai generasi yang ketiga. Ia lahir pada 10 oktober 1869 di Mojowarno, Jawa Timur. Dari enam orang bersaudara, tiga diantaranya menjadi penginjil di Indonesia. Arie Kruyt menjadi tangan kanan ayahnya melayani kesehatan penduduk di Jawa Timur, Hendri Kruyt sendiri telah menghabiskan labih dari separuh umurnya hidupnya di Deli, Sumatera Utara dan Albertus Cristian Kruyt sendiri telah menghabiskan lebih dari separuh hidupnya di Tana Poso, Sulawesi Tengah. Cukup beralasan, bukan karena lamanya melainkan hasil jerih-juangnya beliau mendapat panggilan kehormata: “A.C. Kruyt, Pelayan Orang Poso”.
Ayah dan ibunya mempersiapkan anak mereka sejak kecil untuk menjadi seorang penginjil dikemudian hari. Pada waktu A.C Kruyt sudah dapat mendengar dan mengerti Injil yang bekerja di beberapa daerah penginjilan. Dan yang terutama cerita Alkitab yang menjadi bagian hidup keluarga ini setiap hari.  Menjelang usia sekolah Kruyt dikirim orang tuanya ke Belanda mengikuti pendidikan di situ, mulai pada tahun 1877.
Pengurus Nederlands Zending Genootschap (N.Z.G) menyambut baik kedatangan Kruyt di Belanda. Mereka menaruh perhatian penuh kepada anak-anak penginjil yang berasal dari luar negeri. Mereka membantunya masuk sekolah dan memberikan tunjangan keuangan dan membimbing keperibadiannya pada waktu luang. Mula-mula Kruty belajar di sekolah umum selama 6 tahun. Sesudah itu ia meneruskan pendidikannya di sekolah Zending yang berlangsung selama 6 tahun pula. Tiga tahun terakhir di sekolah tersebut ia mempelajari pengetahuan teologia secara penuh. Akhir pendidikan ini semua siswa diuji di depan “ Haagse Commissie”, yaitu suatu panitia yang berhak menilai hasil studi maupun minat seseorang dalam pekerjaan gereja. Panitia ujian tersebut menyatakan bahwa berdasarkan minat yang sangat kuat A.C Kruyt dinyatakan lulus. Setelah lulus dari sekolah Zending, Kruyt mengikuti bimbingan praktek kesehatan di Rumah Sakit Rotterdam selama satuh tahun. Sementara itu setiap bulan berkeliling di Belanda untuk mengenal secara langsung kehidupan jemaat-jemaat. Pada akhir masa praktek itu pengurus zending menyampaiakan kepadanya rencana yang telah disepakati, bahwa ia akan di utus ke Jawa sesuai dengan usulan ayahnya. Rencana tersebut di tolak oleh Kruyt dan ia sendiri mengemukakan keinginannya untuk memberitakan Injil di Tana Poso, Sulawesi Tengah, dimana penduduk asli masih kafir. Usul itu diterima baik oleh dan pengurus zending ingin mempersiapkan juga tenaga yang mendampinginya kemudian. Kepadanya di perkenalkan Nicolaas Adriani yang sementara di persiapkan oleh Lembaga Alkitab Belanda. Orang ini akan banyak berperan dalam usaha penterjemahan Alkitab pada kemudian hari.
Sebelum keberangkatannya ke Indonesia Kruyt ditahbiskan menjadi Pendeta pada tanggal 16 Juli 1890; dan ia melangsungkan pernikahannya dengan Johanna Moulijn pada bulan Nopember. Pada akhir bulan yang sama mereka berangkat dari Belanda dan tiba di Indonesia pada 27 Desember 1890. Di Jakarta Kruyt menyerahkan surat-surat pengurus NZG kepada konsul Zending dan kepada pemerintah, dalam hal ini kepala Pendidakan dan Kebudayaan. Pemerintah menganjurkan supaya rencana untuk memasuki pedalaman Sulawesi Tengah dipersiapakan dengan matang di Manado, Sulawesi Utara. Dalam perjalanan Kruyt menemui ayahnya di Mojowarno selama waktu yang terbatas. Sesudah itu ia meneruskan perjalanan dan tiba di Manado pada bulan April 1891. Di manado Kruyt menerima tugas baru untuk membantu pekerjaan zending di Gorontalo, yaitu melayani jemaat yang anggota-anggotanya terdiri dari orang Minahasa sambil mengajar di sekolah. Pada waktu tertentu ia berusaha memasuki bagian pedalaman dengan maksud untuk melakukan penginjilan kepada penduduk. Setelah bergaul banyak dengan penduduk ia mengambil kesimpualan bahwa usaha penginjilan di sini tidak akan membuahkan hasil yang diharapkan. Alasannya terletak dalam bahasa komukasi Kruty tidak mengetahui bahasa Melayu. Selain itu penduduk Gorontalo telah memeluk agama Islam. Sebab itu rencana semula semakin menimbulkan kerinduan dalam dirinya untuk segera mengusahakan persiapan menuju bagian selatan teluk Tomoni ke Tana Poso yang masih kafir. Pada akhirnya atas persetujuan Zending dan pemerintah ia dapat memulaikan tugas yang baru di situ.

B. Pekerjaan Pendahuluan Di Tana Poso
Asisten-residen di Gorontalo, Van Hoefel, menemani Kruyt dalam perjalanan pertama yang berlangsung selama satu bulan, Juni-Juli 1891. Di Poso ia mengunjungi tiga perkampungan penduduk Poso, Sayo, dan Mapane. Ada tiga pengalaman yang berharga dalam perkunjungan ini. Pertama, Asisten-residen memperkenalkan Kruty sebagai Guru dan Sando (dokter) kepada kabosenya (tokoh masyarakat) Garuda di Sayo. Sebagai Guru dan Sandi ia akan tinggal bersama-sama dengan penduduk. Kedua, mendapat sebidang tanah sebagai tempat untuk membangun rumah sebuah sekolah. Biaya pembangunan rumah menjadi tanggungan bersama antara Zending dan pemerintah. Ketiga, Kruyt mulai mengusahakan mempelajari beberapa kata praktis bahasa Pamona dari seorang Minahasa yang sudah lama tinggal di Poso. Setiap hari ia mengumpulkan perbendaharaan bahasa itu dalam buku hariannya.
Sekembalinya di Gorontalo Van Hoevel digantikan oleh asisten-residen yang baru, Jellesma, anak seorang penginjil di Semarang. Asisten-residen yang baru itu mngantar Kruyt pada perjalanan yang kedua. Kali ini Kruyt tinggal lebih lama di Poso mulai tanggal 16 Februari 1892. Setelah empat belas hari bersama-sama di Poso, Jellesma kembali ke Gorontalo. Di poso Kruyt kembali melakukan kegiatannya di tengah-tengah penduduk. Garuda menyambut baik kedatangan Kruyt. Keamanannya dijamin oleh penduduk. Selama perkunjungan ini Kruyt melakukan banyak pekerjaan. Bersama-sama dengan penduduk ia membuka jalan yang menghubungkan lokasi pembangunannya rumahnya dan sekolah yang masih dalam perencanaa itu. Setiap sore hari ia mengunjungi penduduk di rumah-rumah mereka.
Dengan cara ini Kruyt mengenal lebih banyak lagi kebiasaan-kebiasaan mereka. Pada kesempatan itu ia juga memulaikan pelayanannya kepada orang-orang sakit. Yang sangat menarik perhatian Kruyt adalah pendapat penduduk bahwa setiap penyakit yang diderita orang-orang poso nampaknya disebabkan oleh kuasa-kuasa dari luar. Penyakit ini hanya dapat disembuhkan oleh tadu mburake, seorang imam kafir. Ia sendiri pernah mengikuti suatau upacara yang sangat rahasia yang disebut mopagere dalam usaha mengobati seorang sakit. Secara rahasia tadu mburake itu mengeluarkan dua buah sembiluh dari si sakit. Di tengah suasana seperti itu Kruyt juga merawat orang-orang sakit. Caranya tidak rahasia. Ia menerangkan obat apa yang ia gunakan, dan kemudian pasien didoakan. Pada setiap pelayanan orang sakit ia melakukan percakapan-percakapan mengenai kehidupan praktis, umpanya tentang kapal yang berlayar di laut, atau tentang asal usul barang yang di jual oleh pedagang dan lain-lain.
Kruyt pada suatu kesempatan memenuhi undangan seorang kabosenya, papa i Wunte, di desa Woyomakuni, wilayah Pebato. Papa i wunte mengharapkan agar Kruyt mengeluarkan kantu (jampi-jampi) dari luka bakar anaknya. Kruyt mengobati luka bakar itu dengan memberikan obat tablet dan membalutnya dengan kain perban. Selain melayani orang-orang sakit, di Woyomakuni ia mengemukakan rencananya untuk mendirikan sebuah di kemudian hari. Rencana tersebut disambut baik oleh papa i Wunte. Sekembalinya di Poso, Kruyt melanjutkan perjalanannya ke wilayah Lage, khususnya di desa Tomasa. Ia bertemu dengan dua orang kabosenya, papa i Malempo (Tadjongga) dan Talasa. Papa i Malempo menerima baik rencana Kruyt untuk mendirikan sebuah sekolah bagi penduduk. Penglaaman dan rencana dalam perkunjungan yang kedua disampaikannya kepada pengurus Zending sekembalinya di Gorontalo, oada bulan Juni 1892. Pengurus zending menyambut baik rencana pembangunan rumah dan sekolah.
Pada bulan September sampai Desember 1892 Kruyt meneruskan pekerjaan yang dianggapnya prioritas. Pertama, ia mulai mengumpulkan orang-orang yang audah dikenal. Pertemuan-pertemuan itu makin lama makin banyak orang yang hadir. Dalam pertemuan itu Kruyt mulai menceritakan kisah Alkitab dan berdoa. Pada suatu pertemuan seorang dari antara yang hadir dengan spontan mengatakan bahwa Tuhan Allah dan Tuhan Yesus yang ia dengar pada waktu itu berbeda daripada yang ia dengar dari orang Islam. Berita pekerjaan Kruyt sangat cepat tersiar ke desa-desa yang lain di bagian pedalaman. Kedua, pada perkunjungan di wilayah Pebato kabosenya di desa Woyomakuni dan Tempogadadi menyetujui usul Kruyt untuk memindahkan desa mereka dari gunung ke suatu lembah. Kesepakatan itu terlaksana ketika Kruyt menetap di Poso.
Di Gorontalo Kruyt menyediakan seluruh waktunya untuk pekerjaan di Tana Poso. Ia menulis buku yang akan dipergunakam di sekolah. Ia juga menghubungi sekolah guru di Tomohon dan meminta tenaga guru-guru yang akan membantunya nanti di Poso. Di tengah-tengah kesibukannya suatu kebahagian meliputi hidup keluarganya, pada tanggal 30 Maret 1893 puteranya yang pertama lahir dan di beri nama Yohannes. Pada bulan April Kruyt meninggalkan lagi Gorontalo dan berlayar menuju Poso. Kali ini ia bermaksud untuk memperluas jangkauan perjalanan ke pedalaman, khususnya di wilayah sekitar Danau Poso. Di desa Towale ia berkenalan dan menjalin hubungan dengan wa'a ngkabosenya (para tokoh masyarakat). Penduduk tidak mencurigai kedatangannya. Di Towale, Kruyt membuat gambar wawo  ntana (peta) daerah Poso. Peta itu diperlihatkannya kepada penduduk. Ia menunjukkan nama-nama dan tempat setiap desa. Mendengar semuanya itu penduduk merasa heran, karena Kruyt sebagai orang asing justru lebih mengetahui daripada mereka sendiri. Dengan demikian penduduk meminta supaya Kruyt bersedia untuk mengulangi perkunjungannya. Setelah kembali ke Poso, ia sangat terkejut. Kekacauan politik memuncak: orang-orang Ondae'e dengan orang-orang Pebato telah siaga berperang. Kruyt berusaha menengahi pertikaian itu dan kepada pemerintah ia memintakan bantuan. Untuk sementara kedua pihak yamg bertikai mengurungkan niatnya. Dengan demikian ia dapat kembali ke Gorontalo dengan perasaan lega.

C. Kruyt menetap di Poso
Pada akhir tahun 1893, Kruyt mulai menetap di Poso. Hubungan antar suku semakin tegang. Orang-orang Onda'e berperang melawan suku Napu di muara Sungai Poso pada tahun1894. Perang itu menimbulkan korban sangat banyak di antara kedua pihak. Sementara itu suku Sigi dari Utara mengganggu penduduk sekitar Poso dan Pebato hilir. Dari arah selatan suku Luwu melakukan tekanan-tekanan kepada penduduk yang tinggal di pedalaman. Untuk mengatasi suasana itu Kruyt meminta bantuan pemerintah. Pada tahun itu juga seorang kontroleur dan sejumlah polisi di tempatkan di Poso. Dengan demikian terbukalah jalan untuk memasuki pedalaman dengan bebas. Untuk mengatasi tindakan orang-orang luwu, Kruyt dan Nicolaas Adriani (yang tiba tahun 1895) sepakat mengunjungi secara langasung Datu (raja) Luwu di Palopo. Pada tahun 1896 keduanya melakukan perjalanan jauh yang bertujuan untuk membebaskan seluruh penduduk di Tana Poso. Adriani melewati perjalanan menuju Sulawesi Selatan dan Kruyt datang dari Makassar. Di Makassar Kruyt meminta memberikan surat pembebasan kekuasaan Datu Luwu atas Tana Poso. Dengan surat itu Datu Luwu tidak dapat berbuat apa-apa terhadap Kruyt dan Adriani kecuali mengiakannya. Dengan berakhirnya kekuasaan Datu Luwu maka Kruyt dapat melakukan perkunjungan-perkunjungan dalam rangka pnginjilan. Pada perjalanan jauh yang memakan waktu berbulan-bulan, Kruyt memperdalam pengetahuan bahasa, kebudayaan, tradisi, dan agama penduduk. Semuanya itu akan berguna dalam pekerjaannya. Rencana untuk mendirikan sekolah di Tomasa dan Woyomakuni ternyata tidak semudah seperti yang di pikirkan semula. Tradisi dan pengertian penduduk asli menjadi hambatan. Penduduk berkesimpulan bahwa tidak akan ada lagi anak-anak yang membantu di ladang dan kalau anak-anak itu menjadi pandai mereka akan menentang tata tertib dan tradisi hidup sosial. Di karenakan sikap penduduk tersebut dapat di lihat perkembangan jumlah sekolah pada tahun 1894 di buka dua buah, dan dalam waktu 3 tahun hanya bertambah empat buah sekolah.

Admin Saya seorang yang sangat ingin belajar lebih dalam tentang dunia Internet.

1 comment for "Sejarah singkat Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST)"